Suatu hari seorang lelaki pemarah menemui Sang Kakek. Dia
mendamprat Kakek dengan kata-kata kasar. Sang Kakek mendengarkanya
dengan sabar, tenang, dan tidak berkata sepatah pun.
Akhirnya lelaki itu berhenti memaki. Setelah itu, Kakek bertanya
kepadanya,”Jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak menerimanya,
lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?” “Tentu saja menjadi milik
si pemberi.” Jawab orang itu.
Lelaki itu mendengarkan Sang Kakek dan merasa malu. Ia meminta maaf dan kemudian pergi.
Kita tidak bisa mengotori langit (Meludah ke langit)
Cara Bahagia
Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle,
orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta
api.
Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson,
penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga
overdosis.
Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.
Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe,
artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi
hingga overdosis.
Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa,
dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah
acara di televisi.
Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan
oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau
sesukses apapun hidupnya.
Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri..
mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala
hal…
“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli
kebahagiaan itu. dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena
sudah diborong oleh mereka.”
“Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti di belahan lain di
bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana
kebahagiaan itu berada .”
Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi
mencari kebahagiaan itu.
Yang kita butuhkan adalah
Hati yang Bersih dan Ikhlas serta Pikiran yang Jernih, maka kita bisa menciptakan rasa “Bahagia” itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun.”
Kebahagiaan itu milik Orang-orang yang pandai Bersyukur.

Sally baru berumur 8 tahun ketika secara tak sengaja, dia mendengar
orang tuanya saling berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi yang
menderita sakit parah.
Hanya operasi yang sangat mahal yang bisa menyelamatkan hidupnya, tapi mereka tak punya biaya.
Sally mendengar ayahnya berkata : “Hanya KEAJAIBAN yang bisa menyelamatkannya”.
Lalu Sally membuka celengannya, dikeluarkannya semua isi celengan itu ke lantai dan kemudian menghitungnya.
Dengan membawa uang, Sally menyelinap keluar dan pergi ke apotik.
“Apa yang kau perlukan?” tanya apoteker.
“Saya mau menolong adikku, dia sakit dan saya mau membeli keajaiban” jawab Sally
“Apa?!" Sang apoteker sedikit bingung.
“Ayahku mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya. Jadi berapa harganya ?”
“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil” jawab apoteker.
“Tapi saya punya uang. Katakan saja berapa harga keajaiban ?”
Seorang pria berpakaian rapi yang yang mendengar percakapan Sally dan apoteker mendekat dan bertanya :
“Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan adikmu ?”
“Saya tak tahu” jawab Sally. Air mata mulai menetes di pipinya.
“Saya hanya tahu dia sakit parah dan ayah mengatakan bahwa ia perlu dioperasi"
Orang tuaku tak mampu membayarnya, tapi saya punya uang ini”
“Berapa uang yang kamu punya?” tanya pria itu lagi.
“Satu dollar, sebelas sen” jawab Sally dengan yakin.
“Kebetulan sekali”, kata pria itu sambil tersenyum, “Satu dollar dan
sebelas sen, harga yang tepat untuk membeli keajaiban, yang dapat
menolong adikmu!”
Orang itu mengambil uang Sally, kemudian memegang tangan Sally:
“Bawa saya kepada adikmu, saya mau bertemu dengannya dan orang tuamu”
Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal.
Operasi dilakukan tanpa biaya dan tak butuh waktu yang lama Georgi
kembali ke rumah dalam keadaan sehat.
Orang tuanya sangat bahagia.
Sally tersenyum...
Dia tahu pasti berapa harga keajaiban tersebut, Satu dollar dan sebelas sen! ditambah dengan keyakinan.
KETIKA KAMU BERFIKIR TIDAK ADA KE AJAIBAN ANDA SALAH..!!
Suatu hari, sebelum pulang kantor, sang suami menelpon istrinya,
"sayang, alhamdulillah, bonus akhir tahun dari perusahaan sudah turun,
Rp. 150 juta." Dibalik telpon, sang istri tentu saja mengungkapkan rasa
syukurnya, "Alhamdulillah, semoga barokah ya mas".
Sejak beberapa bulan yang lalu mereka sudah merencanakan membeli mobil
sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang bonus yang cair kali ini,
mereka rasa cukup pas untuk membeli mobil sesuai budget.
Namun dalam perjalanan pulang, dia ditelpon oleh ibunya di kampung,
"Nak, kamu ada tabungan? Tadi ada orang datang ke rumah. Ternyata
almarhum ayahmu punya hutang ke dia cukup besar, Rp. 50 juta." Tanpa
pikir panjang, ia pun bilang ke ibunya, "Iya, Bu, insyaAllah ada." Dia
berpikir, "Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli mobil yang 100
jutaan, mungkin ini lebih baik."
Dia pun melanjutkan perjalanan. Belum tiba di rumah, Ponselnya kembali
berdering. Seorang sahabat karibnya tiba-tiba menghubunginya sambil
menangis. Sahabatnya itu sambil terbata mengabarkan bahwa anaknya harus
segera dioperasi minggu ini. Banyak biaya yang tidak bisa dicover oleh
asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit Rp. 80
juta.
Lalu dia berpikir sejenak. Uang bonusnya tinggal 100 juta. Jika ini
diberikan kepada sahabatnya, maka tahun ini ia gagal membeli mobil
impiannya. Tapi nuraninya mengetuk, "Berikan padanya. Mungkin ini memang
jalan Allah untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya
yang datang melalui perantara dirimu." Ia pun menuruti panggilan
nuraninya.
Setibanya di rumah, dia menemui istrinya dengan wajah yang lesu. Sang
istri bertanya, "Kenapa, mas? Ada masalah? Nggak seperti biasanya pulang
kantor murung gini?" Sang suami mengambil napas panjang, "Tadi ibu di
kampung telpon, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak
lama, sahabat abang juga telpon, butuh 80 juta untuk operasi anaknya.
Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya, tahun ini kita tidak jadi beli mobil
dulu."
Sang istri pun tersenyum, "Aduh, mas, kirain ada masalah apaan. Mas,
uang kita yang sebenarnya bukan yang 20 juta itu, tapi yang 130 juta.
Uang yang kita infakkan kepada orang tua kita, kepada sahabat kita,
itulah harta kita yang sesungguhnya. Yang akan kita bawa menghadap
Allah, yang tidak mungkin bisa hilang jika kita ikhlas. Sedangkan yang
20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan
menjadi milik orang lain."
Sang istri pun memegang tangan suaminya, "Mas, insyaAllah ini yg
terbaik. Bisa jadi jika kita beli mobil saat ini, jsutru menjadi
keburukan bagi kita. Bisa jadi musibah besar justru datang ketika mobil
itu hadir saat ini. Maka mari berbaik sangka kepada Allah, karena kita
hanya tahu yang kita inginkan, sementara Allah-lah yang lebih tahu apa
yang kita butuhkan."
Hari
itu saya bermaksud belanja keperluan pribadi di swalayan dekat tempat tinggal saya . Setelah mengambil segala barang yang saya butuhkan
,saya pun buru buru menuju antrian di kasir . Di depan saya ada seorang
anak muda berpenampilan rada sangar dan di depan anak muda itu ada
seorang ibu ibu berpenampilan sederhana dengan 2 orang anaknya yang
sedang menghitung belanjaan mereka di kasir.
"Total seluruhnya 145 ribu bu", kata si neng
penjaga kasir tersenyum ramah setelah menjumlahkan seluruh barang
belanjaan si ibu . Ibu itu segera membuka dompetnya... uangnya recehan
semua dan sedikit lusuh, lalu dia menghitungnya satu persatu dengan
wajah tertunduk . Kedua anaknya berdiri memperhatikan ibu mereka sambil
sesekali memegang tangannya, keduanya terlihat tidak sabar . Antrian di
swalayan-pun semakin panjang, maklum tanggal muda...
Saya lihat wajah si ibu pucat pasi ... terlihat jelas ia kebingungan
sebab ternyata uang yang ada di dompetnya kurang. Ia mulai berfikir
untuk mengembalikan sebagian barang belanjaan yang diambilnya...
seketika tiba-tiba saja... anak muda di depan saya membungkuk sambil
memungut uang 50 ribuan yg ada di lantai dan menyodorkannya ke pada ibu
itu :
"Hati-hati bu, hati hati kalau menghitung uang... ini ada selembar uang
ibu yang jatuh", Si ibu yang bengong seperti tak percaya... dengan
tangan bergetar mengambil dan menerima uang itu... dengan tatapan mata
penuh syukur ia memandang pada si anak muda tsb.
Setelah membayar di kasir dengan gembira kedua anaknya menenteng kantong
plastik belanjaan berlalu pergi. Anak muda itu membayar belanjaannya
kemudian ia juga segera pergi... saya kejar sambil tergesa-gesa menyusul
dia... setelah bertemu Saya berkata, "Dek saya tahu... tadi kamu dengan
sengaja menjatuhkan uang 50 rebuan milikmu... buat kamu kasihkan sama
si ibu yang tadi itu... saya melihat karena saya berada tepat di
belakang kamu... demi ALLAH saya bertanya, bagaimana kamu bisa mendapat
ide itu ?"
Anak muda itu dengan santun menjawab, "ALLAH lah yang mengilhamkan itu
pada saya pak... saya tidak ingin si ibu itu malu dihadapan kita dan
anak-anak nya... karena itu ALLAH menggerakkan hati saya untuk spontan
mengerjakan apa yang bapak lihat".
Subhanallah... ternyata bila hati menginginkan kebaikan... ALLAH akan
membantu hamba NYA melakukan kebaikan itu... sungguh... kebaikan itu
hanya mudah dilakukan bagi orang yang memang menginginkannya.... seperti
firman ALLAH
فأما من أعطى و اتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى
Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertaqwa dan
membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan
menyiapkan baginya jalan yang mudah” [QS.Al-Lail: 5-7]
Kisah Nyata yang Pilu dari Siswi SMA Yaman
Maaf fotonya monas
Sebagaimana biasanya, di sekolah SMA
Putri di kota Shan’a’, Yaman, akan diadakan pemeriksaan mendadak
terhadap seluruh siswi yang menempuh pendidikan di sana. Hal ini tentu
dilakukan untuk merazia berbagai barang-barang yang terlarang untuk
dibawa ke dalam lingkungan sekolah, yang tentunya telah ditetapkan oleh
pihak sekolah sejak awal.
Hal ini sebenarnya bukan sebuah kejadian
yang baru, sebab secara berkala dalam waktu yang teracak, pihak sekolah
memang sering melakukan pemeriksaan mendadak. Satu persatu kelas mulai
dimasuki oleh petugas pemeriksa yang tampak begitu bersemangat, namun
mereka tak menemukan sesuatu yang dilarang di dalam tas-tas para siswi
tersebut. Kali ini kelas terakhir yang dimasuki oleh tim pemeriksa
tersebut, terlihat siswi-siswi di sana mulai mengeluarkan tas mereka
beserta semua isinya dan menaruhnya di atas meja. Semua terlihat
berjalan normal, kecuali seseorang yang terlihat gusar dan duduk di
jejeran meja agak belakang.
Siswi ini sedikit pemalu dan tertutup,
sehingga jarang sekali berbaur dengan yang lainnya. Namun dia dikenal
sebagai pribadi yang sopan dan juga santun, bahkan dia salah satu yang
paling pintar di antara teman-temannya. Tapi kali ini dia terlihat
ketakutan dan bahkan semakin gusar ketika gilirannya akan tiba. Kedua
tangannya berada di dalam tasnya, sementara pandangannya tak lepas dari
petugas yang kini mendekatinya. Tiba-tiba saja dia memeluk erat tas itu
dan seolah tidak akan pernah melepaskannya kembali.
“Sekarang giliranmu, buka tasmu,
Anakku..” ujar petugas tersebut dengan lembut, namun siswi tersebut
semakin erat memeluk tasnya.
“Berikan tasnya pada ibu, Nak,”
“Jangan..jangan diambil..” jawabnya
sambil menjerit. Perdebatan tak dapat dielakkan, hingga seisi kelas
menjadi riuh menyaksikan hal tersebut. Siswi tersebut tetap bersikukuh
untuk memeluk tasnya dengan erat, sementara tim pemeriksa berupaya untuk
mengambilnya darinya. Hal ini berlangsung cukup lama, namun siswi
tersebut masih saja memeluk tasnya dengan sekuat tenaga, meski tim
pemeriksa berupaya untuk merampasnya.
Tarik menarik di antara keduanya
berakhir dengan sebuah hal yang mengejutkan seisi kelas, siswi tersebut
menangis dengan sangat keras dan membuat semua yang ada di sana menjadi
tercengang. Dia salah satu siswi terpintar dan berbudi pekerti yang baik
di sekolah tersebut, hingga tak seorangpun menyangka akan melihatnya
berperilaku seperti itu. Seisi kelas mendadak hening dan semua orang
sibuk bertanya-tanya di dalam hatinya, “apa sebenarnya yang sedang
disembunyikan siswi ini di dalam tasnya?”
Kejadian ini butuh penanganan khusus,
hingga akhirnya siswi tersebut dibawa ke ruang kantor kepala sekolah.
Selama dalam perjalanan menuju ke sana, tak sedikitpun pandangan tim
pemeriksa berpaling atau sekedar berkedip untuk mengawasinya. Mereka
begitu yakin jika siswi ini menyimpan sesuatu di dalam tasnya, dan
bagaimana jika dia membuangnya di dalam perjalanan tersebut?
Seperti seorang penjahat yang baru
tertangkap, siswi tersebut menjadi perhatian para siswi dan guru yang
berkerumun di depan kantor kepala sekolah. Hal ini membuatnya semakin
sedih dan tidak bisa berhenti menangis. Beruntung kepala sekolah begitu
bijak dan meminta para siswi tersebut masuk ke dalam kelas masing-masing
dan membubarkan kerumunan guru yang juga memenuhi tempat itu. Kepala
sekolah hanya mengizinkan tim pemeriksa saja yang berada di sana dan
melanjutkan tugasnya kembali, namun dia ingin menenangkan siswi itu
terlebih dahulu.
“Apa yang kamu simpan di dalam tasmu,
Anakku?” tanyanya pelan sambil berusaha untuk menenangkannya. Suara yang
lembut dan keibuan ini membuat siswi tersebut lebih tenang dan segera
membuka tasnya di hadapan semua orang di sana. Alangkah kagetnya mereka,
tak ada handphone, foto-foto, atau sesuatu barang yang terlarang di
sana. Hanya beberapa genggam sisa-sisa roti di antara buku-buku dan alat
tulisnya. Hal ini membuat semua yang ada di sana terperangah, terutama
setelah mendengar cerita siswi tersebut.
“Aku mengumpulkan ini dari sisa-sisa
roti siswi lain yang mereka buang di tanah, aku memakannya sebagian
untuk sarapan dan akan membawa pulang sisanya untuk keluargaku di rumah.
Ibu dan saudari-saudariku tidak memiliki apapun yang bisa dimakan
selain sisa-sisa roti ini, kami keluarga miskin dan tidak seorangpun
kerabat dan saudara yang peduli dengan kesulitan kami. Hal inilah yang
membuatku menolak untuk diperiksa, sebab aku tidak mau dipermalukan dan
menjadi bahan ejekan teman-teman sekelasku. Mereka tidak akan berhenti
membuatku malu, dan jika itu terjadi, maka bisa saja aku tidak mampu
lagi meneruskan pendidikanku. Saya mohon maaf, jika sudah berlaku tidak
sopan dan membuat repot semua orang,” ucapnya sambil menyeka airmata
yang mulai mengering di pipinya. Sementara semua yang hadir di sana
menangis di depannya karena kejadian pilu yang harus dialaminya, bahkan
hingga waktu yang lama mereka masih menangis di sana.
Kisah siswi SMA Yaman ini sungguh sangat
memperihatinkan, bagaimana tidak, dengan kekurangan yang dimilikinya
dia masih semangat untuk bersekolah bahkan sampai memakan roti sisa sisa
temennya yang sudah dibuang. Pasti dari kalian pernah melihat anak anak
sekolah tidak ingin berangkat sekolah kalau tidak diberikan uang jajan
yang banyak atau dari kita pernah seperti itu? Tidak ingin sekolah kalau
tidak diberi uang jajan? Dari kisah ini kita bisa belajar banyak, kita
bisa belajar cara bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini,
karena diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih kurang beruntung
dari kita. Dan pelajaran lain yang bisa kita ambil dari kisah siswi sma
yaman ini adalah semangat yang tak pernah padam walaupun dalam kondisi yang menyulitkan.
Semoga kisah ini dapat memberi pelajaran bagi kalian yang membacanya.