Kamis, 17 Maret 2016

Kisah Inspiratif

Mengotori Langit




Suatu hari seorang lelaki pemarah menemui Sang Kakek. Dia mendamprat Kakek dengan kata-kata kasar. Sang Kakek mendengarkanya dengan sabar, tenang, dan tidak berkata sepatah pun.
Akhirnya lelaki itu berhenti memaki. Setelah itu, Kakek bertanya kepadanya,”Jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?” “Tentu saja menjadi milik si pemberi.” Jawab orang itu.
”Begitu pula dengan kata-kata kasarmu,” timpal Kakek .”Aku tidak mau menerimanya, jadi itu adalah milikmu. Kamu harus menyimpannya sendiri. Aku mengkhawatirkan kalau nanti kamu harus menanggung akibatnya, karena kata-kata kasar hanya akan membuahkan penderitaan. Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludahnya hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri.”
Lelaki itu mendengarkan Sang Kakek dan merasa malu. Ia meminta maaf dan kemudian pergi.
Kita tidak bisa mengotori langit (Meludah ke langit)

Cara Bahagia






Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.
Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.
Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.
Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.
Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.
Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya.
Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri.. mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal…
“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.”
“Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti di belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada .”
Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.
Yang kita butuhkan adalah Hati yang Bersih dan Ikhlas serta Pikiran yang Jernih, maka kita bisa menciptakan rasa “Bahagia” itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun.”
Kebahagiaan itu milik Orang-orang yang pandai  Bersyukur.

Harga sebuah keajaiban

Sally baru berumur 8 tahun ketika secara tak sengaja, dia mendengar orang tuanya saling berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi yang menderita sakit parah.

Hanya operasi yang sangat mahal yang bisa menyelamatkan hidupnya, tapi mereka tak punya biaya.

Sally mendengar ayahnya berkata : “Hanya KEAJAIBAN yang bisa menyelamatkannya”.

Lalu Sally membuka celengannya, dikeluarkannya semua isi celengan itu ke lantai dan kemudian menghitungnya.

Dengan membawa uang, Sally menyelinap keluar dan pergi ke apotik.
“Apa yang kau perlukan?” tanya apoteker.
“Saya mau menolong adikku, dia sakit dan saya mau membeli keajaiban” jawab Sally
“Apa?!" Sang apoteker sedikit bingung.
“Ayahku mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya. Jadi berapa harganya ?”
“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil” jawab apoteker.
“Tapi saya punya uang. Katakan saja berapa harga keajaiban ?”

Seorang pria berpakaian rapi yang yang mendengar percakapan Sally dan apoteker mendekat dan bertanya :
“Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan adikmu ?”
“Saya tak tahu” jawab Sally. Air mata mulai menetes di pipinya.
“Saya hanya tahu dia sakit parah dan ayah mengatakan bahwa ia perlu dioperasi"
Orang tuaku tak mampu membayarnya, tapi saya punya uang ini”
“Berapa uang yang kamu punya?” tanya pria itu lagi.
“Satu dollar, sebelas sen” jawab Sally dengan yakin.
“Kebetulan sekali”, kata pria itu sambil tersenyum, “Satu dollar dan sebelas sen, harga yang tepat untuk membeli keajaiban, yang dapat menolong adikmu!”

Orang itu mengambil uang Sally, kemudian memegang tangan Sally:
“Bawa saya kepada adikmu, saya mau bertemu dengannya dan orang tuamu”

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal. Operasi dilakukan tanpa biaya dan tak butuh waktu yang lama Georgi kembali ke rumah dalam keadaan sehat.
Orang tuanya sangat bahagia.
Sally tersenyum...
Dia tahu pasti berapa harga keajaiban tersebut, Satu dollar dan sebelas sen! ditambah dengan keyakinan.

KETIKA KAMU BERFIKIR TIDAK ADA KE AJAIBAN ANDA SALAH..!!





Kita Hanya Tahu yang Kita Inginkan, Tapi Allah Lebih Tahu Apa yang Kita Butuhkan



Suatu hari, sebelum pulang kantor, sang suami menelpon istrinya, "sayang, alhamdulillah, bonus akhir tahun dari perusahaan sudah turun, Rp. 150 juta." Dibalik telpon, sang istri tentu saja mengungkapkan rasa syukurnya, "Alhamdulillah, semoga barokah ya mas".

Sejak beberapa bulan yang lalu mereka sudah merencanakan membeli mobil sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang bonus yang cair kali ini, mereka rasa cukup pas untuk membeli mobil sesuai budget.

Namun dalam perjalanan pulang, dia ditelpon oleh ibunya di kampung, "Nak, kamu ada tabungan? Tadi ada orang datang ke rumah. Ternyata almarhum ayahmu punya hutang ke dia cukup besar, Rp. 50 juta." Tanpa pikir panjang, ia pun bilang ke ibunya, "Iya, Bu, insyaAllah ada." Dia berpikir, "Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli mobil yang 100 jutaan, mungkin ini lebih baik."

Dia pun melanjutkan perjalanan. Belum tiba di rumah, Ponselnya kembali berdering. Seorang sahabat karibnya tiba-tiba menghubunginya sambil menangis. Sahabatnya itu sambil terbata mengabarkan bahwa anaknya harus segera dioperasi minggu ini. Banyak biaya yang tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit Rp. 80 juta.

Lalu dia berpikir sejenak. Uang bonusnya tinggal 100 juta. Jika ini diberikan kepada sahabatnya, maka tahun ini ia gagal membeli mobil impiannya. Tapi nuraninya mengetuk, "Berikan padanya. Mungkin ini memang jalan Allah untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya yang datang melalui perantara dirimu." Ia pun menuruti panggilan nuraninya.

Setibanya di rumah, dia menemui istrinya dengan wajah yang lesu. Sang istri bertanya, "Kenapa, mas? Ada masalah? Nggak seperti biasanya pulang kantor murung gini?" Sang suami mengambil napas panjang, "Tadi ibu di kampung telpon, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak lama, sahabat abang juga telpon, butuh 80 juta untuk operasi anaknya. Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya, tahun ini kita tidak jadi beli mobil dulu."

Sang istri pun tersenyum, "Aduh, mas, kirain ada masalah apaan. Mas, uang kita yang sebenarnya bukan yang 20 juta itu, tapi yang 130 juta. Uang yang kita infakkan kepada orang tua kita, kepada sahabat kita, itulah harta kita yang sesungguhnya. Yang akan kita bawa menghadap Allah, yang tidak mungkin bisa hilang jika kita ikhlas. Sedangkan yang 20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan menjadi milik orang lain."

Sang istri pun memegang tangan suaminya, "Mas, insyaAllah ini yg terbaik. Bisa jadi jika kita beli mobil saat ini, jsutru menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi musibah besar justru datang ketika mobil itu hadir saat ini. Maka mari berbaik sangka kepada Allah, karena kita hanya tahu yang kita inginkan, sementara Allah-lah yang lebih tahu apa yang kita butuhkan."

 

Hati yang Menginginkan Kebaikan

 



 

Hari itu saya bermaksud belanja keperluan pribadi di swalayan dekat tempat tinggal saya . Setelah mengambil segala barang yang saya butuhkan ,saya pun buru buru menuju antrian di kasir . Di depan saya ada seorang anak muda berpenampilan rada sangar dan di depan anak muda itu ada seorang ibu ibu berpenampilan sederhana dengan 2 orang anaknya yang sedang menghitung belanjaan mereka di kasir.

"Total seluruhnya 145 ribu bu", kata si neng penjaga kasir tersenyum ramah setelah menjumlahkan seluruh barang belanjaan si ibu . Ibu itu segera membuka dompetnya... uangnya recehan semua dan sedikit lusuh, lalu dia menghitungnya satu persatu dengan wajah tertunduk . Kedua anaknya berdiri memperhatikan ibu mereka sambil sesekali memegang tangannya, keduanya terlihat tidak sabar . Antrian di swalayan-pun semakin panjang, maklum tanggal muda...

Saya lihat wajah si ibu pucat pasi ... terlihat jelas ia kebingungan sebab ternyata uang yang ada di dompetnya kurang. Ia mulai berfikir untuk mengembalikan sebagian barang belanjaan yang diambilnya... seketika tiba-tiba saja... anak muda di depan saya membungkuk sambil memungut uang 50 ribuan yg ada di lantai dan menyodorkannya ke pada ibu itu :

"Hati-hati bu, hati hati kalau menghitung uang... ini ada selembar uang ibu yang jatuh", Si ibu yang bengong seperti tak percaya... dengan tangan bergetar mengambil dan menerima uang itu... dengan tatapan mata penuh syukur ia memandang pada si anak muda tsb.

Setelah membayar di kasir dengan gembira kedua anaknya menenteng kantong plastik belanjaan berlalu pergi. Anak muda itu membayar belanjaannya kemudian ia juga segera pergi... saya kejar sambil tergesa-gesa menyusul dia... setelah bertemu Saya berkata, "Dek saya tahu... tadi kamu dengan sengaja menjatuhkan uang 50 rebuan milikmu... buat kamu kasihkan sama si ibu yang tadi itu... saya melihat karena saya berada tepat di belakang kamu... demi ALLAH saya bertanya, bagaimana kamu bisa mendapat ide itu ?"

Anak muda itu dengan santun menjawab, "ALLAH lah yang mengilhamkan itu pada saya pak... saya tidak ingin si ibu itu malu dihadapan kita dan anak-anak nya... karena itu ALLAH menggerakkan hati saya untuk spontan mengerjakan apa yang bapak lihat".

Subhanallah... ternyata bila hati menginginkan kebaikan... ALLAH akan membantu hamba NYA melakukan kebaikan itu... sungguh... kebaikan itu hanya mudah dilakukan bagi orang yang memang menginginkannya.... seperti firman ALLAH

فأما من أعطى و اتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى

Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” [QS.Al-Lail: 5-7]


 

Kisah Nyata yang Pilu dari Siswi SMA Yaman


Maaf fotonya monas

Sebagaimana biasanya, di sekolah SMA Putri di kota Shan’a’, Yaman, akan diadakan pemeriksaan mendadak terhadap seluruh siswi yang menempuh pendidikan di sana. Hal ini tentu dilakukan untuk merazia berbagai barang-barang yang terlarang untuk dibawa ke dalam lingkungan sekolah, yang tentunya telah ditetapkan oleh pihak sekolah sejak awal.
Hal ini sebenarnya bukan sebuah kejadian yang baru, sebab secara berkala dalam waktu yang teracak, pihak sekolah memang sering melakukan pemeriksaan mendadak. Satu persatu kelas mulai dimasuki oleh petugas pemeriksa yang tampak begitu bersemangat, namun mereka tak menemukan sesuatu yang dilarang di dalam tas-tas para siswi tersebut. Kali ini kelas terakhir yang dimasuki oleh tim pemeriksa tersebut, terlihat siswi-siswi di sana mulai mengeluarkan tas mereka beserta semua isinya dan menaruhnya di atas meja. Semua terlihat berjalan normal, kecuali seseorang yang terlihat gusar dan duduk di jejeran meja agak belakang.
 
 
Siswi ini sedikit pemalu dan tertutup, sehingga jarang sekali berbaur dengan yang lainnya. Namun dia dikenal sebagai pribadi yang sopan dan juga santun, bahkan dia salah satu yang paling pintar di antara teman-temannya. Tapi kali ini dia terlihat ketakutan dan bahkan semakin gusar ketika gilirannya akan tiba. Kedua tangannya berada di dalam tasnya, sementara pandangannya tak lepas dari petugas yang kini mendekatinya. Tiba-tiba saja dia memeluk erat tas itu dan seolah tidak akan pernah melepaskannya kembali.
“Sekarang giliranmu, buka tasmu, Anakku..” ujar petugas tersebut dengan lembut, namun siswi tersebut semakin erat memeluk tasnya.
“Berikan tasnya pada ibu, Nak,”
“Jangan..jangan diambil..” jawabnya sambil menjerit. Perdebatan tak dapat dielakkan, hingga seisi kelas menjadi riuh menyaksikan hal tersebut. Siswi tersebut tetap bersikukuh untuk memeluk tasnya dengan erat, sementara tim pemeriksa berupaya untuk mengambilnya darinya. Hal ini berlangsung cukup lama, namun siswi tersebut masih saja memeluk tasnya dengan sekuat tenaga, meski tim pemeriksa berupaya untuk merampasnya.
Tarik menarik di antara keduanya berakhir dengan sebuah hal yang mengejutkan seisi kelas, siswi tersebut menangis dengan sangat keras dan membuat semua yang ada di sana menjadi tercengang. Dia salah satu siswi terpintar dan berbudi pekerti yang baik di sekolah tersebut, hingga tak seorangpun menyangka akan melihatnya berperilaku seperti itu. Seisi kelas mendadak hening dan semua orang sibuk bertanya-tanya di dalam hatinya, “apa sebenarnya yang sedang disembunyikan siswi ini di dalam tasnya?”
Kejadian ini butuh penanganan khusus, hingga akhirnya siswi tersebut dibawa ke ruang kantor kepala sekolah. Selama dalam perjalanan menuju ke sana, tak sedikitpun pandangan tim pemeriksa berpaling atau sekedar berkedip untuk mengawasinya. Mereka begitu yakin jika siswi ini menyimpan sesuatu di dalam tasnya, dan bagaimana jika dia membuangnya di dalam perjalanan tersebut?
Seperti seorang penjahat yang baru tertangkap, siswi tersebut menjadi perhatian para siswi dan guru yang berkerumun di depan kantor kepala sekolah. Hal ini membuatnya semakin sedih dan tidak bisa berhenti menangis. Beruntung kepala sekolah begitu bijak dan meminta para siswi tersebut masuk ke dalam kelas masing-masing dan membubarkan kerumunan guru yang juga memenuhi tempat itu. Kepala sekolah hanya mengizinkan tim pemeriksa saja yang berada di sana dan melanjutkan tugasnya kembali, namun dia ingin menenangkan siswi itu terlebih dahulu.
“Apa yang kamu simpan di dalam tasmu, Anakku?” tanyanya pelan sambil berusaha untuk menenangkannya. Suara yang lembut dan keibuan ini membuat siswi tersebut lebih tenang dan segera membuka tasnya di hadapan semua orang di sana. Alangkah kagetnya mereka, tak ada handphone, foto-foto, atau sesuatu barang yang terlarang di sana. Hanya beberapa genggam sisa-sisa roti di antara buku-buku dan alat tulisnya. Hal ini membuat semua yang ada di sana terperangah, terutama setelah mendengar cerita siswi tersebut.
“Aku mengumpulkan ini dari sisa-sisa roti siswi lain yang mereka buang di tanah, aku memakannya sebagian untuk sarapan dan akan membawa pulang sisanya untuk keluargaku di rumah. Ibu dan saudari-saudariku tidak memiliki apapun yang bisa dimakan selain sisa-sisa roti ini, kami keluarga miskin dan tidak seorangpun kerabat dan saudara yang peduli dengan kesulitan kami. Hal inilah yang membuatku menolak untuk diperiksa, sebab aku tidak mau dipermalukan dan menjadi bahan ejekan teman-teman sekelasku. Mereka tidak akan berhenti membuatku malu, dan jika itu terjadi, maka bisa saja aku tidak mampu lagi meneruskan pendidikanku. Saya mohon maaf, jika sudah berlaku tidak sopan dan membuat repot semua orang,” ucapnya sambil menyeka airmata yang mulai mengering di pipinya. Sementara semua yang hadir di sana menangis di depannya karena kejadian pilu yang harus dialaminya, bahkan hingga waktu yang lama mereka masih menangis di sana.
 
 
Kisah siswi SMA Yaman ini sungguh sangat memperihatinkan, bagaimana tidak, dengan kekurangan yang dimilikinya dia masih semangat untuk bersekolah bahkan sampai memakan roti sisa sisa temennya yang sudah dibuang. Pasti dari kalian pernah melihat anak anak sekolah tidak ingin berangkat sekolah kalau tidak diberikan uang jajan yang banyak atau dari kita pernah seperti itu? Tidak ingin sekolah kalau tidak diberi uang jajan?  Dari kisah ini kita bisa belajar banyak, kita bisa belajar cara bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, karena diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih kurang beruntung dari kita. Dan pelajaran lain yang bisa kita ambil dari kisah siswi sma yaman ini adalah semangat yang tak pernah padam walaupun dalam kondisi yang menyulitkan.
Semoga kisah ini dapat memberi pelajaran bagi kalian yang membacanya.